Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, July 16, 2010

Seven Habits, Kaizen dan Islam

SEVEN HABITS, KAIZEN, DAN AJARAN ISLAM
Oleh : Jen Z.A. Hans, Ph.D
Ketua Program Magister Management STIE IPWI

Struktur sosial ekonomi masyarakat kita berbentuk piramida, yang didominasi
oleh kelas bawah, diikuti oleh kelas menengah dan kelas atas. Bentuk
struktur sosial yang kita inginkan adalah belah ketupat yang didominasi
oleh kelas menengah, dengan sedikit kelas atas dan kelas bawah di kedua
ujungnya. Transformasi struktur sosial ekonomi dari berbentuk piramida ke
belah ketupat dihadapkan dengan kendala pola pikir determinisme yang
mendominasi kalangan menengah ke bawah. Dua pola pikir determinisme yang
banyak dianut adalah: Pertama, "genetic determinism", yang pada dasarnya
mengatakan bahwa kita menjadi memble karena kita mewarisi gen-gen
ke-memble-an di dalam chromosom sel-sel tubuh kita dari nenek moyang kita
secara genetis (faktor keturunan); Kedua, "environmental determinism", yang
mengatakan bahwa kita menjadi memble karena faktor lingkungan. Kedua aliran
determinisme sering dijadikan excuse untuk menjelaskan posisi kita yang
berada di bawah. Kalau ditelusuri, pola pikir determinisme berasal dari
pakar perilaku Ivan Pavlov.

Adalah Ivan Pavlov yang mula-mula mengemukakan teori mengenai terdapatnya
hubungan langsung antara Stimulus dan Respons. Melalui percobaannya dengan
anjing yang dikondisikan secara berulang-ulang setiap kali anjing disodori
sekerat daging sambil dibunyikan bel (stimulus), lidah anjing dijulurkan
dan air liurnya keluar (respons). Setelah terkondisi, anjing tetap saja
mengeluarkan air liurnya ketika bel dibunyikan walaupun tidak disertai
dengan sekerat daging. Nah, Ivan berpendapat bahwa manusia tidak ubahnya
seperti anjing yang cenderung memberikan respons tertentu untuk setiap
stimulus yang datang. Itulah sebabnya anak-anak sekolah (mahasiswa) pelaku
tawuran kalau ditanya mengapa mereka tawuran pada umumnya menjawab bahwa
mereka merasa tersinggung (respons) atas perbuatan atau perkataan yang
dilakukan atau diucapkan oleh pihak lawan (stimulus).

Victor Frankl dalam bukunya "Men Search for Meaning" membantah teori Pavlov
dengan mengatakan bahwa manusia sangat berbeda dengan anjing. Bagi manusia,
antara stimulus dan respons terdapat "freedom to choose" (kemerdekaan untuk
memilih). Kita memiliki kebebasan untuk memilih respons terhadap setiap
stimulus yang datang, karena Allah Sang Pencipta melengkapi manusia dengan
Furqon (berupa Al Qur'an yang membedakan antara respons yang haq dan yang
batil), "independent will" (kehendak merdeka), "self awareness (kesadaran
diri), "conscience (kata hati), dan imagination (imajinasi). Respons yang
kita pilih tergantung pada makna yang kita asosiasikan pada stimulus yang
datang.

Perbedaan antara orang-orang yang berada di kelas menengah ke bawah dan
mereka yang berada di kelas menengah ke atas yang terpenting adalah dalam
kebiasaannya. Benar bahwa orang-orang yang termasuk kelas menengah ke atas
adalah orang-orang yang beruntung, karena keberuntungan diperoleh ketika
persiapan bertemu dengan kesempatan. Disadari atau tidak, yang dinamakan
kesempatan atau peluang selalu berada di sekeliling kita setiap saat. Hanya
mereka yang telah dan selalu mempersiapkan diri sajalah yang dapat
mengenali dan menangkap setiap peluang yang datang. Bagi mereka yang tidak
mempersiapkan diri, boro-boro menangkap peluang, bahkan peluang yang
nyata-nyata disodorkan ke depan hidungnya pun disia-siakan karena tidak
menyadari bahwa yang ada di depan hidungnya itu adalah peluang.

Presiden Bill Clinton menilai bahwa daya saing bangsa Amerika mulai
tergeser oleh bangsa Jepang dan negara-negara industri baru di Asia. Salah
satu cara untuk mengembalikan keunggulan bangsa Amerika menurut Presiden
Clinton adalah dengan menerapkan "The Seven Habits of Highly Effective
People" (Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif) yang ditulis oleh
Dr.Steven R. Covey. Kalau bangsa Amerika saja yang sudah maju mau belajar
dari Steven R. Covey, pasti ada hikmahnya bila kita juga mau mempelajari 7
kebiasaan Covey. Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda: "Hikmah itu milik
orang Islam, dimanapun kamu mendapatkannya ambillah".

Apakah kebiasaan itu ? Kebiasaan adalah pertemuan antara "knowledge"
(pengetahuan), "skill" (keterampilan) dan "desire" (keinginan).
Menghentikan kebiasaan merokok misalnya, tidak cukup dengan memiliki
pengetahuan tentang terdapatnya hubungan negatif antara merokok dengan
kesehatan dan mengetahui cara berhenti merokok. Kalau hanya "knowledge" dan
"skill" yang diperlukan, tentu tidak ada lagi dokter yang merokok. Mengubah
kebiasaan mensyaratkan ketiganya. Percaya atau tidak, faktor yang ketiga
yaitu keinginan, sangat dipengaruhi oleh makna yang kita asosiasikan pada
kebiasaan tersebut. Perokok misalnya mengasosiasikan merokok dengan
kenikmatan, sedangkan bukan perokok mengasosiasikan merokok dengan
penderitaan. Berikut ini adalah 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif.

Kebiasaan Pertama, Proaktif.
Proaktif bukan sekedar berinisiatif. Proaktif berarti suatu keyakinan bahwa
apa pun yang kita peroleh dalam hidup merupakan akibat pilihan respons kita
sendiri. Kebiasaan pertama merupakan kesadaran bahwa antara stimulus dan
respons terdapat "freedom to choose". Allah berfirman dalam Surat Ar-Rad
13:11 "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri". Kebanyakan orang berpikir
bahwa ketidakbahagiaan mereka disebabkan karena apa yang terjadi pada diri
mereka. Padahal yang benar adalah karena cara mereka memberi makna atas apa
yang terjadi. Selalu ada pilihan untuk bereaksi secara positif terhadap
situasi yang bagaimanapun negatifnya. Kemampuan untuk memilih respons
seperti yang dikemukakan di atas, merupakan fungsi dari kemampuan kita
memanfaatkan karunia Allah berupa Furqon (berupa Al Qur'an yang membedakan
antara respons yang haq dan yang batil), "independent will" (kehendak
merdeka), "self awareness" (kesadaran diri), conscience (kata hati) dan
"imagination" (imajinasi). Dengan kata lain, kebiasaan proaktif menyatakan
bahwa kitalah pemrogram kehidupan kita sendiri.

Kebiasaan Kedua, Mulai Dengan Akhir Dalam Pikiran.
Kebiasaan kedua adalah kebiasaan memiliki visi, misi dan tujuan. Kebiasaan
ini menunjukkan arah dan cara menjalani hidup serta menentukan hal-hal yang
penting dalam hidup. Islam mengajarkan pentingnya goal setting ketika
Rasulullah Saw menyatakan setiap perbuatan tergantung niatnya. Kebiasaan
mulai dengan akhir dalam pikiran mengajarkan agar kita menuliskan
programnya.

Kebiasaan Ketiga. Dahulukan Yang Harus Didahulukan.
Mendahulukan yang utama merupakan kebiasaan yang menuntut integritas,
disiplin dan komitmen. Kebiasaan ketiga merupakan perwujudan dari
kemerdekaan memilih hanya melakukan hal-hal penting yang telah ditentukan
pada kebiasaan kedua. Allah Swt berfirman dalam Surat Al Mu'minun 23:1-3
"Sungguh berhasil orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam
sholat mereka dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan dan percakapan
yang sia-sia", dan dalam surat Al-'Ashr 103:1-3 "Demi waktu, sesungguhnya
manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran".
Juga dalam Surat Al Insyirah 94:7-8 "Maka apabila engkau telah selesai
(dari suatu urusan), maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan
sungguh-sungguh dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap".
Kebiasaan ketiga menekankan pentingnya memanfaatkan waktu.

Kebiasaan Keempat, Berpikir Menang-Menang.
Berpikir menang-menang berasal dari karakter yang dicirikan dengan
kejujuran (menyesuaikan kata dengan perbuatan), integritas (menyesuaikan
perbuatan dengan kata), kematangan (keseimbangan antara ketegasan dan
toleransi), dan mentalitas kelimpahan (keyakinan bahwa karunia Allah
tersedia tanpa batas bagi siapapun yang mengikuti sunnatullah atau
"causality law").

Kebiasan Kelima, Berusaha Mengerti Lebih Dulu - Baru (minta) Dimengerti.
Kebiasaan kelima menunjukkan bahwa "the secret of living is giving"
(rahasia kehidupan adalah memberi). Rasulullah Saw bersabda bahwa tangan di
atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Petani yang berhasil
mengetahui rahasia hidup tersebut, sehingga ketika ia bersawah ia tidak
meminta sawah agar memberinya panenan, tetapi ia terus memberi dengan
menyemaikan benih, menanam, menyirami, memupuk, menjaga tanaman padi dari
serangan hama dan penyakit sampai tiba saat memanen. Dengan terus memberi,
petani mendapat balasan yang berlipat ganda, dari satu butir berkembang
menjadi tujuh tangkai dan masing-masing tangkai menghasilkan seratus butir,
berarti 700 kali lipat. Allah berfirman dalam Surat Al Zalzalah 99:7-8
"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat
balasannya dan barangsiapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, dia akan
melihat balasannya" dan dalam Surat Ar-Rahman 55:60-61 "Tiadalah balasan
kebaikan, melainkan kebaikan pula, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang
kamu dustakan". Juga dalam Surat Al Baqarah 2:261 "Perumpamaan orang yang
memberi di jalan Allah, adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh
tangkai, pada tiap tangkai itu berisi seratus biji, dan Allah
melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Kebiasaan Keenam, Wujudkan Sinergi.
Bersinergi berarti keseluruhan lebih bernilai daripada jumlah
bagian-bagiannya. Mengenai pentingnya bersinergi, Khalifah Umar bin Khattab
pernah berujar bahwa kejahatan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan
yang tidak terorganisir. Yang harus diingat adalah agar dapat bersinergi
setiap anggota memiliki lima kebiasaan di atas yaitu proaktif, mulai dengan
akhir dalam pikiran, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang dan
berusaha mengerti lebih dulu baru dimengerti. Allah Swt mengingatkan agar
kita hanya bersinergi dalam melakukan kebaikan bukan dalam berbuat dosa dan
permusuhan (Al Maidah 5:2).

Kebiasaan Ketujuh, Mengasah Gergaji.
Rasulullah mengajarkan agar kita terus mengasah gergaji fisik, mental,
sosial / emosional, dan spiritual kita ketika beliau bersabda: "Orang Islam
adalah orang yang begitu sibuk memperbaiki diri, sehingga tidak memiliki
waktu tersisa untuk mencari-cari aib orang lain. Orang Islam adalah orang
yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan hari esoknya lebih baik dari
hari ini. Amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah amal yang
dilakukan terus menerus walaupun sedikit."

Orang Jepang sangat menekankan pentingnya melakukan perbaikan diri secara
terus menerus (Kaizen). Dalam buku "Strategic Management", Dess dan Miller
mengemukakan tiga metode Kaizen.

Pertama, Experimentation.
Filosofi experimentation adalah "if you fail at the first time, try, try, …
and try again" "I will persist until I succeed". Ada empat langkah
experimentation:
1. Know what you want (SMART = Specific, Measurable, Achievable,
Reasonable, and Time-limit).
2. Action (if you don't do anything you will be a dreamer or a member of
NATO, no action talk only).
3. Observe whether your action leads you to what you want or not.
4. If not, change your approach. Repeat the process over again until you
get what you want.

Contoh paling bagus untuk experimentation adalah keberhasilan Thomas Alpha
Edison setelah melakukan 10 ribu kali percobaan untuk menemukan bola lampu,
dan Kolonel Sanders yang telah ditolak sebanyak 1009 kali sebelum memulai
bisnis Kentucky Fried Chicken-nya. Allah Swt berfirman dalam Surat Al
Baqarah 2:153 "Hai orang-orang yang beriman, mintalah kepada Allah dengan
sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". Orang
yang sabar adalah orang yang tabah melakukan experimentation untuk terus
meningkatkan kualitas iman, hidup, pikir, kerja dan karyanya (5k). Mana
yang lebih sabar, tukang bakso yang sejak umur 17 tahun mulai mendorong
gerobak bakso dan masih mendorong gerobak bakso yang sama setelah mencapai
usia 40 tahun, atau tukang bakso yang ketika usia 17 tahun mendorong
gerobak bakso, setelah berusia 40 tahun memiliki waralaba bakso di setiap
mal ?

Kedua, Benchmarking.
Daripada melakukan "trial and error" melalui experimentation, ada cara lain
yang lebih mempercepat perjalanan menuju tempat yang kita inginkan yaitu
dengan "benchmarking". Benchmarking disebut juga "role modelling" atau
"reverse engineering". Empat langkah benchmarking:
1. Know what you want (SMART = Specific, Measurable, Achievable,
Reasonable, and Time-limit).
2. Find a model (someone, organization, or firm) that has got what you
want.
3. Observe what the model does.
4. Do the same thing as the model does or do it even better until you get
what you want.

Bangsa Jepang dikenal sebagai the greatest benchmarker in the world. Hampir
semua penemuan yang berguna bagi ummat manusia yang dilakukan melalui
metode experimentation oleh bangsa Amerika atau Eropa seperti mobil,
komputer, telepon, dan televisi telah di-benchmarking oleh bangsa Jepang
sehingga bangsa Amerika dan Eropa sendiri merasa terkaget-kaget melihat
merk Jepang seperti Honda, Toyota, Mitsubishi, Sony dan Hitachi membanjiri
pasar mereka. Singapore, Korea dan Taiwan mengikuti jejak yang telah
dilakukan Jepang. Fadel Muhammad dengan Bukaka Tekniknya memiliki ruang
yang disebutnya "Sontek Room" untuk menyontek penyontek sehingga garbarata
buatan Bukaka Teknik mulai digunakan di bandara negara yang diconteknya.
Allah menyuruh kita menerapkan benchmarking dalam Surat Al Ahzab 33:21
"Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat teladan (role model) yang baik
bagimu, bagi orang orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kemudian dan
banyak mengingat Allah". Rasulullah sendiri, seperti dikemukakan di atas,
menyuruh agar kita mengambil hikmah dari siapapun dan dari manapun, karena
hikmah itu milik orang Islam.

Ketiga, Outsourcing.
Metode Kaizen yang ketiga merupakan suatu kesadaran bahwa betapa pun
hebatnya seseorang tidak akan unggul dalam semua aspek kehidupan. Begitupun
suatu organisasi atau perusahaan tidak mungkin unggul dalam semua hal. Oleh
karena itu kadang-kadang diperlukan melakukan "oursourcing" yaitu mengambil
"source from outside" atau meminta bantuan pihak lain atau
men-subkontrak-kan hal-hal yang dapat dilakukan oleh pihak lain sepanjang
memenuhi tiga kriteria berikut: kualitasnya tinggi (high quality), harganya
murah (low price), dan pengirimannya tepat waktu (just-in-time delivery).
Allah Swt menyuruh kita melakukan "outsourcing" ketika berfirman dalam
Surat An Nahl 16:43 "Bertanyalah kamu kepada mereka yang berilmu, jika kamu
tidak mengetahui".

Alangkah indahnya ajaran Islam. Wajar jika Allah Swt dalam Surat Ar-Rahman
berulang-ulang mengajukan pertanyaan: "Dan nikmat Tuhanmu yang mana lagikah
yang kamu dustakan?" Dan dalam Surat Ibrahim 14:7 "Sungguh jika kamu
bersyukur, niscaya Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu
mengingkarinya, sungguh azab-Ku amat keras." Lagu yang sering dinyanyikan
anak saya dari Bimbo layak untuk direnungkan: "Ajarilah aku ya Allah,
mengenali karunia-Mu, begitu banyak yang Kau beri, begitu sedikit yang
kusadari. Ajarilah aku Ya Allah, berterima kasih kepada-Mu, agar aku dapat
selalu, mensyukuri nikmat-Mu".

Daftar Pustaka
1. Stephen R. Covey :
1990, 7 Habits of Highly Effective People
1992, Principle-Centered Leadership
1994, Daily Reflections for Highly Effective People: Living the 7
Habits of Highly Effective People Every day
2. John Naisbit, 1982, Megatrends: Ten New Directions Transforming Our
Lives.
3. Al Qur'an dan Hadits Rasulullah.

Definisi Iman

DEFINISI IMAN

[ Dipersiapkan oleh Team Mu'allim LPMI ]

Disalin dari hp nya Mas Hamzah

Tinjauan Bahasa

Dikatakan amana-yu'minu-iimaanan ait tashdiiqu, jadi Iman itu berarti berarti pembenaran

Tinjauan Istilahi

Al Hafizh Ibnu Hajar Al 'Asqolaniy berkata, Iman menurut pengertian syar'iy adalah membenarkan apa-apa yang datang dari Allah, yang dibawa oleh Rasulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam. [Fathul Bari, I/46]

Sebagian ulama salaf berkata: Ia (iman) adalah keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota badan.

DISYAREATKANNYA IMAN

Katakanlah : Hai manusia sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya, Nabi yang ummiy yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [Al A'raaf 158]

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rosul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An Nisaa' 136]

Rosulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, "Aku perintahkan kalian untuk beriman kepada Allah wahdah." (HR.Bukhori Muslim)

HAKEKAT IMAN

Iman adalah asas diterimanya segala amal

Maka barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, sedang ia beriman , maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan-amalan itu dan sesungguhnya kami menulis amalan itu untuknya. [Al Anbiyaa 94]

Dari Barro' radliyallaahu 'anhu telah datang kepada Rosulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam seseorang dengan perlengkapan perang yang lengkap, berkata, "Wahai Rosulullah, apakah aku harus maju perang atau harus masuk Islam?" Rasul menjawab, "Islamlah dulu lalu berperanglah." Maka ia masuk Islam kemudian berperang dan lalu terbunuh. Rosulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam berkata, "Ia sedikit beramal tetapi diberi pahala banyak." (HR. Bukhori Muslim)

Iman bukan hanya sekedar keyakinan.

Iman bukan hanya i'tiqod karena iblis juga yakin akan adanya Allah, namun Allah mensifatinya dengan kekafiran. sebab ia enggan untuk beramal, melaksanakan perintah Allah.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al Baqarah 34]

Maka Iman yang benar adalah Iman yang mencakup

1. I'tiqod yang tidak tercampuri keraguan
2. Amalan sebagai pembenaran I'tiqod.

Hasan Al-Bashriy berkata :

"Iman bukan sekedar angan-angan dan omong kosong, tetapi ia adalah yang mantap di dalam hati dan dibenarkan dengan amal."

Ibnu Al-Qoyyim menulis, "Hakekat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua : perkataan hati yaitu i'tiqod dan perkataan lisan yaitu pengucapan kalimat Islam. Perbuatan (amal) juga terdiri dari dua : amal hati yaitu niat dan ikhlash-nya, dan amal jawarih. Apabila ke-empat hal ini hilang, maka hilanglah iman keseluruhannya, apabila pembenaran hati hilang, maka yang lain tidak lagi bermanfaat. Apabila amal hati tidak ada, sedangkan i'tiqod masih ada, maka Ahlus-Sunnah bersepakat akan hilangnya iman. Dan jika iman hilang dengan tiadanya amal hati, maka tidak dipungkiri lagi ia juga hilang dengan hilangnya amal jawarih yang terbesar (yaitu sholat), apalagi jika hal ini merupakan buah dari kosongnya kecintaan hati dan ketundukannya." [Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Kitaabush-sholah wa hukmu Taarikuha, 22]

Iman haruslah utuh, Iman yang sepotong - potong tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla

Sesungguhnya orang yang kafir kepada Allah dan rosulNya dan bermaksud membedakan (antara keimanan kepada) Allah dan Rosul-rosulNya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan. [An Nisaa 151]

Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain, Tiadalah balasan bagi yang berbuat demikian kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. [Al Baqarah 85]

Iman bertambah dan berkurang.

Iman bertambah dengan mengerjakan perintah Allah dan berkurang dengan kemaksiatan,

...... dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Robb-nyalah mereka bertawakal. [Al Anfal 2]

Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafiq itu), "Berimanlah kamu kepada Alloh dan berjihadlah beserta rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta idzin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, "biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk." [At Taubah 86]

Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia maupun diakherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Al Hajj 11]

Dari Ibn Mas'ud radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi shallalaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, "Tidak ada seorang nabipun yang diutus oleh Allah kepada suatu umat sebelumku kecuali ia mempunyai pengikut atau shahabat dari umatnya yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Lalu berlalulah setelah mereka generasi-generasi yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka, barangsiapa berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah seorang yang beriman, barangsiapa berjihad melawan mereka dengan lisannya, dia adalah seorang yang beriman, barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka dia adalah seorang yang beriman, dan setelah itu tidak ada Iman walaupun sebiji sawi. (HR. Muslim)

Tentang Ilmu

TENTANG ILMU
[ Dipersiapkan oleh Team Mu'allim LPMI ]

Disalin dari hp nya Mas Hamzah

DEFINISI ILMU

1. Lughoh/Bahasa

Al 'ilmu dhidzdzul jahli, Ilmu adalah lawan dari kata bodoh / jahil. [Lisanul Arob, Ibnu Mandhur I/870]

2. Istilah

Idzrakusy syaii bi haqiiqatihi, Mengetahui sesuatu sampai hakekatnya. [Al Munjid 527]
Shifatun yankasyifu bihaal mathluubu inkisyaafan taamann, Suatu sifat yang menyingkap (rahasia) sesuatu secara sempurna. [Mu’jamul Wasith II/124]

3. Syar'iy

Ilmu shohih adalah ilmu yang sesuai dengan 'amal, baik amalan hati, amalan lisan, maupun anggota badan, sesuai dengan petunjuk Rasululloh Shalallahu 'Alaihi Wassalam. [Perkataan Ibnul Qayyim dan Imam Syatibi, lihat al Ilmu 'inda ahli Sunnah, DR Muhammad al Kha'ran 13-16, Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah 10/664]

Berkata Ali bin Abi Tholib:

Innamal 'alimu man 'amilu bimaa 'alima wa waafaqahu 'ilmuhu 'amalahu
Sesungguhnya yang disebut orang 'alim adalah orang yang beramal dengan ilmunya dan yang ilmunya sesuai dengan 'amalnya. [Tibyan fie Adab Hamlatil Qur'an, An Nawawi 17]

DISYARIATKANNYA MENCARI ILMU

1. Firman Allah :

Bacalah dengan nama Robb-mu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Robb-mu yang Maha Mulia. Yang mengajar dengan perantaraan qolam. Mengajari manusia apa yang tidak mereka ketahui. (Al-'Alaq 1-5)

Iqra adalah membaca dalam arti luas (mengkaji) karena Muhammad SAW adalah nabi yang ummy (tidak bisa membaca), sehingga bila perintah iqra diartikan membaca dalam arti membaca buku saja adalah tidak tepat. Tidak adanya obyek bagi perintah iqra menunjukkan ajakan untuk mengkaji apa saja. Hal ini setara dengan dengan kata khalaqa yang juga tidak diberi obyek, sehingga menunjukkan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Jadi kajilah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi tiap-tiap golongan di antara mereka sekelompok orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang dien dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah 122)

2. Hadits Rasululloh

Thalabul 'ilmu fariidhatun alaa kulli muslimin
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. [Shohih Jami'ush Shoghir, Imam al Suyuti 5264]

3. Perkataan Salaf

Imam Al-Bukhoriy berkata :

Al 'ilmu qablal qauli wal 'amali liqaulillahi ta'alaa: faa'lam innahu laa ilaha illa allahu
Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan, karena Allah berfirman, "Ketahuilah bahwa tidak ada ilah kecuali hanya Allah." [Al Jamili Bayanil 'Ilmi wa Fadhlihi, Ibnul Abdil Bar I/11]

LARANGAN BERKATA TANPA ILMU

Allah Ta'ala telah mengharamkan perkataan tanpa ilmu, terutama pada permasalahan yang berkenaan tentang Allah, urusan haram dan halal tanpa hujjah syar'iyyah.

1. Al-Qur-an

Allah berfirman :

Janganlah kamu mengikuti (wa laa taqfu) sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu atasnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu akan dimintai pertanggungan-jawabannya. [17:36]

Ibnu 'Abbas menjelaskan bahwa "wa laa taqfu" artinya "wa laa taqul" (jangan berkata). Ibnu Katsir ketika menerangkan ayat diatas berkata :

Innallaha nahaa ‘anil qauli bidh dhanna
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla melarang perkataan tanpa ilmu, juga perkataan dengan dhonn (persangkaan). [Fathul Bari, Ibnu Hajar I/161]

Katakanlah, Robb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [7:33]

2. Hadits Rasululloh

Man qala fiil qur-aani bighairi 'ilmin falyatabauwak maq'adahu minan naari
Barang siapa yang berbicara tentang sesuatu berkenaan dengan Al-Qur-aan tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka. [Al Qur'anul Adhim, Ibnu Katsir, Surat Isro' ayat 36]

Man kadzdzaba alaiya mata'ammidan falyatabauwak maq'adahu minan naari
Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempat kembalinya di neraka. [Shohih, HR Tirmidzi 2950, Ahmad 2089, Thobari 73]

3. Perkataan Salaf

Abu Bakar berkata:

Ayyu ardhin tuqilunii wa ayyu samaa'in tuzhillunii idzaa qultu alaallahi maa laa a'lamu
Bumi mana yang akan melindungiku, dan langit mana yang akan menaungiku bila aku berkata sesuatu tentang Allah yang aku tidak ketahui. [Shohih Muslim I/5]

Abu Hushain berkata :

Inna ahadakum layuftii fiil masalati lau waradat alaa 'umar bin khaththab lajama'a lahaa ahlal badriin
Sungguh salah seorang diantara kalian mudah berfatwa dalam suatu urusan yang seandainya ditanyakan kepada Umar, ia akan mengumpulkan seluruh Ahli Badar (untuk menjawabnya). [Syarh Sunnah, Imam Baghowi I/244]

FUNGSI ILMU

Diantara fungsi ilmu yang terpenting adalah :

1. Sebagai alat ma'rifatulloh.

Allah berfirman : faa 'alam annahu laa ilaha illallahu [Muhammad: 19]
Ketahuilah bahwa tidak ada ilah selain Allah.

Man maa ta wa huwa ya'lamu annahu laa ilaha illallahu dakhalal jannata
Barang siapa mati, sedang dia mengetahui bahwa tidak ada ilah kecuali hanya Allah akan masuk jannah. [HR Muslim, Kitabul Iman I/55, Ahmad I/85]

2. Menunjukkan jalan yang benar (haqq) dan meninggalkan kebodohan

Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fiid diini
Artinya : Barang siapa dikehendaki Allah padanya kebaikan, maka Allah akan memahamkan dien kepadanya. [Muttafaqqun 'alaih]

Ibnul-Qoyyim Al-Jauziyah berkata bahwa Rasululloh mengidentikkan kejahilan sebagai penyakit dan menjadikan obatnya bertanya kepada ulama', sebagaimana sabda Rasululloh :

Awalam yakun syifaa'ul ghabiis suaal
Artinya, "Bukankah obat kejahilan itu bertanya ?" [Daa' wa dawa', Ibnul Qayyim 14, HR Riwayat Hakim I/178, Abud Dawud 336, Ibnu Majah 572, Seluruh perowinya tsiqah]

3. Syarat diterimanya amal dan dasar dari seluruh perkataan dan perbuatan.

'Aisyah Ummul-mu'miniin meriwayatkan bahwa Rasululloh bersabda :

Man 'amila amalan laisa 'alaihi amrunaa fahuwa radun
Artinya : Barang siapa beramal tanpa dasar dari kami, maka tertolaklah amalan tersebut. [HR Bukhari III/91, Muslim bab Qadhiyah 81]

Ibnu Munir berkata bahwa ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan ; keduanya tidak bernilai kecuali dengan ilmu, maka ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu adalah pembenar niyat, sedang amal tidak diterima tanpa niyat yang benar. [Fathul Bari, Ibnu Hajar I/161]

MACAM-MACAM ILMU

Rasululloh bersabda :

Artinya : Dari Anas, dari 'Aisyah radliyallaahu 'anha berkata : bersabda Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam,

In kaana syaian min umuuri dunyaakum fasya'nukum bihi wa in kaana min umuuri diinikum fa ilaiya
Untuk urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengetahui, sedangkan untuk urusan dien, maka kembalikanlah kepadaku." [HR Ibnu Majah, II/825]

Perlu dicatat disini hadist ini asbabul khurujnya berkenan dengan masalah penyerbukan bunga korma, yang merupakan pengetahuan tentang pertanian yang kurang dipahami oleh Rasulullah SAW yang berasal dari Mekkah, sehingga urusan dunia di sini sebenarnya yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan natural science.

Ada dua klasifikasi pokok dalam pembagian ilmu :

1. Ilmu Dien / Ilmu Syar'iy
1. Fardlu 'Ain

2. Ilmu-ilmu yang 'aqidah dan 'ibadah tidak benar dan sah kecuali dengannya seperti rukun iman dan rukun Islam. Fardlu Kifayah

Ilmu-ilmu yang membahas cabang ilmu dien secara detail dan rinci seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu faroidh, dll. Ilmu Dunia/ ilmu Kaun
2.

Segala ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah mashlahat dunia, yakni science dan teknologi. Hukumnya fardlu kifayah.

METODE MENCARI ILMU SYAR'IY

1. Tiga perangkat alat untuk mencari ilmu.

Allah Ta'aala telah memberikan kepada manusia tiga perangkat untuk dapat mengenal Robb-nya, yaitu : pendengaran, penglihatan dan hati. Allah berfirman :

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. [An Nahl 78]

Maka siapa yang menyia-nyiakan tetaplah baginya Jahannam, seperti firman-Nya :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan-nya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagaimana binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. [Al A'raaf, 179]

2. Metode Tholabul ilmi Syar'i

a. Pada masa salaf

Berkata Ibnu Sirin :

Inna hadzaal 'ilma diinun fanzhuruu 'amman ta'khudzuuna diinikum
Sesungguhnya ilmu itu adalah dien, maka lihatlah kepada siapa kamu mengambil ilmumu. [Muqodimah Shohih Muslim I/15]

Para salaf tidak menuntut ilmu kecuali kepada ahlinya, yaitu para ulama' yang tsiqqoh (terpercaya) dan termasyhur kedalaman ilmunya, sehingga mereka mengadakan rihlah dalam tholabul-ilmi sampai ke negeri-negeri yang jauh.

Ibnu Abbas radliyallaahu 'anhu berkata, "Dulu kami jika mendengar seseorang berkata "Rosulullah bersabda begini" kami cepat-cepat memperhatikan dan mendengarnyanya . Akan tetapi setelah terjadi kesulitan pada mausia dan mereka mempermudah urusan (terjadinya fitnah), kami tidak mengambil dari mereka kecuali orang-orang yang kami ketahui (ke-tsiqoh-annya)."

Khotib Al-Baghdadiy berkata :

Artinya : Jika seseorang hendak belajar hanya kepada beberapa ulama' saja, maka hendaklah ia memilih para ulama' yang sudah masyhur ketekunan (kejelian) dan ilmunya. [Adab Tholibul Hadist, Khotib al Baghdadi, 12]

Ibrohim (An-Nakhoiy) berkata :
Artinya : Mereka (para salaf) jika mendatangi para 'alim untuk mengambil ilmu darinya melihat kepada sifat-sifatnya, sholatnya dan keadaannya, baru kemudian mengambil ilmu darinya. [Ibid]

b. Pada masa kini

Kaidah-kaidah di dalam mencari ilmu pada masa salaf juga berlaku pada masa kini namun sedikitnya Ulama pada masa kini terutama yang sampai derajat mujtahid menjadilan sulitnya Tholibul ilmi untuk bisa ber-mulazamah kepada mereka seperti yang pernah dilakukan salaful ummah.

Rosulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa sallam bersabda :
Sesungguhnya diantara tanda dekatnnya hari Qiyamat adalah sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. (HR. Al-Bukhori)

Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mengangkat ilmu dengan seketika dari manusia tetapi dengan mematikan Ulama, sampai apabila tidak tinggal seorang 'alim pun, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh yang ketika ditanya ia akan berfatwa tanpa ilmu, maka ia sesat dan menyesatkan mereka itu. (HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun bagi Tholibul ilmy syar'i, cara terbaik dalam mempelajari ilmu dien adalah sebagaimana Syeikh Utsaimin berkata: [Fatawa 'Utsaimin III]:

Hendaklah Tholibul ilmi memulai dengan :

1. Kitabullah beserta tafsirnya (seperti tafsir Ibnu katsir)
2. Sunnah Rosulullah yang shohih (seperti Shohih Bukhori. Muslim dan Sunan Arba'ah) beserta Syarhnya (seperti Fathul Bary dan Nailul Authar)
3. Kitab-kitab Fiqh (seperti al-Majmu' karangan Imam Nawawiy, al Mughny karangan Ibnu Qudamah)
4. Kitab-kitab para Ulama yang memilki otoritas keilmuan yang tinggi, seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyim
5. Kitab-kitab Ma'ashir karangan para Ulama yang merujuk pada Ulama Salaf.

FADHILAH ILMU (THOLABUL ILMI, THOLIBUL ILMI DAN 'ALIM 'ULAMA)

1. Ilmu mengangkat derajat pemiliknya

Allah Ta'aala berfirman :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-rang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al Mujaadilah:11]

2. Sebagai tanda bahwa pemiliknya berada di atas kebaikan.

Rasululloh bersabda :

man yuriidillahu bihi khairan yufaqqihu fiid diin
Barang siapa dikehendaki Allah padanya kebaikan, maka Allah akan memahamkan dien kepadanya. [Muttafaqun Alaih]

3. Dimudahkan jalannya menuju jannah.

Rasululloh bersabda :

man salaka thariiqan yaltamisu fiihi 'ilman sahallallahu lahu thariiqan ilaal jannah
Barang siapa menempuh suatu perjalanan dalam tholabul-ilmi, maka Allah akan melapangkan jalannya ke jannah. [HR Muslim, Tirmidzi 2646, Abu Dawud 3643]

4. Dinaungi para malaikat dan dido'akan olehnya serta seluruh penghuni langit dan bumi bahkan semut dan ikan di lautan.

Rasulullah bersabda :

Innal malaaikata latadha'u ajnihatahaa lithaalibil 'ilmi ridhan bimaa yuthlabu
Sesungguhnya para malaikat menaungi dengan sayapnya orang yang mencari ilmu, dikarenakan ridlo kepada apa yang dicari.[Hasan, HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Jami'ush Shoghir 2123]

Innallaha wa malaaikatahu wa ahlus samawaati wal ardhi wa hattan namlatu fii hujrihaa wal huutu layushalluuna man yu'allimun naasal khairan
Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, sampai semut diliangnya dan ikan mendo'akan kebaikan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR Tirmidzi 2685, Thobroni dan Al Bazar]

5. Tholibul-ilmi berada di jalan Allah.

Rasululloh bersabda :

man kharaja fii thalabil 'ilmi fahuwa fii sabiilillahi hatta yarjiu
Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali. (Hasan, HR. Tirmidzi, 2647, Ibnu Majah, 227)

6. Seorang 'Alim lebih afdlol dari pada seoran 'Abid.

Fadhlul 'aalimi alaal 'aabidi kafadhlil qamari alaal saairil kawaakibi
Sesungguhnya keutamaan seorang 'Alim atas seorang 'Abid seperti kelebihan cahaya rembulan dari seluruh Bintang-bintang. [HR Tirmidzi 2682]

Abi Umamah meriwayatkan :

Fadhlul 'aalimi alaal 'aabidi kafadhlii 'alaa adnaakum
Fadlilah seorang 'Alim atas seorang 'Abid seperti kelebihanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. (HR. Tirmidzi , Jami'ush Shoghir : 5859)

7. Mendapatkan pahala seperti pahala amalan orang yang kepadanya diajarkan ilmu tersebut.

Rasululloh bersabda :

Man dalla alaal khairi falahu mitslu ajru faa 'ilihi
Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. [Shohih, HR Tirmidzi 2671]

8. Pahala 'Alim yang bermanfaat ilmunya tidak terputus setelah wafatnya.

Diriwayatkan dari Abu Huroyroh bahwa Rasululloh bersabda :

Apabila seseorang meninggal maka terputuslah segala amalannya kecuali dari tiga perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendo'akan-nya. [HR Muslim 2674, Tirmidzi 1376, Abu Dawud 2880]

KARASTERISTIK SEORANG ‘ALIM

1. Khosyatullah

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman :

Sesunggunya yang paling takut kepada Alloh,diantara hamba-hamba-Nya adalah Ulama. [Faatir:28]

Ibnu Mas'ud berkata : Ilmu itu bukan karena banyaknya perkataan, tetapi karena khosyatulloh (takut kepada Allah). [HR Thobroni, Majma' Zawaid, Haitsami X/235]

Imam Ahmad berkata : Pokok ilmu adalah khosyah (kepada Allah). [Dzamul Jahl, Muhammad Ruslan, 187]

2. Barokah ilmu dengan amal dan barokahnya waktu dalam thoah dan hal-hal yang bermanfaat.

Ali bin Abi Thalib Rodliyallaahu 'Anhu berkata : Bahwasanya 'alim itu yang beramal dengan ilmunya dan ilmunya sesuai dengan amalnya. [At Tibyan fii Adabil Hamlatil Qur'an, An Nawawy 17]

Ibnu Mas'ud Rodliyallaahu 'Anhu berkata, Sungguh saya sangat membenci seseorang yang saya lihat kosong dari pekerjaan dunia dan amalan akherat. [Musnad Imam Ahmad]

Al-Mahdi berkata, Seandainya dikatakan pada Hammad bin Salamah, 'Besok anda akan meninggal', maka ia tidak akan mampu menambah sedikitpun dari amalannya (karena penuh waktunya dengan amal sholih). [Siyarul Alam An Nubula, Adz Dzahabi 7/447]

3. Mendakwahkan ilmunya dan tidak menyembunyikannya

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman :

Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin pergi semua (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang dien dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri. [At Taubah 122]

Rosulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa sallam bersabda :

Ballighuu 'anni wallau ayata
Sampaikanlah apa -apa yang datang dariku walaupun satu ayat. [Shohih HR Bukhori IV/207]

Abu Dzar Al Ghifari Radliyallaahu 'anhu berkata, Seandainya kalian (para raja) meletakkan sebilah pedang di mulut ini agar aku menyembunyikan satu perkara yang aku dengar dari Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa sallam maka pasti aku sampaikan urusan itu walau tidak kalian izinkan. [Shohih, HR Bukhori I/170]

Hal ini karena mereka faham benar laknat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan menimpa orang yang menyembunyikan ilmunya, sebagaimana firman-Nya :

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan -keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknati. [Al Baqarah 109]

Rosulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa sallam bersabda :

Man suila 'an 'ilmin fakatamahu aljamahullahu yaumal qiyaamati bilijaamin minan naari
Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia sembunyikannya, Maka pada hari kiamat Allah akan memasang padanya kekang dari api neraka. [Shohih, HR Ashabus Sunan, Ahmad dan Hakim, Jami'ush Shoghir 8732]

4. Selalu berfikir dan men-tadabburi tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang berakhir dengan kesimpulan dan keyakinan bahwa ayat-ayat Allah adalah haq dan tidak ada sedikitpun kebatilan di dalamnya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal [Ali Imraan 19]

Dan orang-orang yang mendalami ilmunya berkata, "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi Rab kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [Ali Imraan 7]

5. Selalu mengikuti yang terbaik dan paling mendekati kebenaran.

Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal. [Az Zumar 17-18]

Imam Malik berkata, Tiap orang diambil dan ditolak perkataannya, kecuali pemilik kubur ini. (Rosulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa sallam) [Bidayah wan Nihayah, 14/140]

Umar radliyallaahu 'anhu pernah melarang mahar yang berlebihan dalam nikah, tiba-tiba berdiri seorang wanita dan berkata, "Apakah engkau akan melarang sesuatu yang diperbolehkan Allah Azza wa Jalla." dalam firman-Nya

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata. [An Nisaa 20]

Maka umar berkata: Benar perkataan wanita itu dan salahlah pendapat Umar. [Al Qur'anul Adhim, Ibnu Katsir 1/442]

Waspadai Anjing yang menggigit

WASPADAI ANJING YANG MENGIGIT

Oleh :

Chin Ning Chu

(Disalin dari buku Thick Face Black Heart - edisi Indonesia Penerbit PT Elex Media Komputindo - halaman 195)



Konon seorang guru Zen Jepang pernah berkata, "Segala sesuatu itu bertumpu pada cinta kasih Tuhan. Dari cinta kasih itulah, alam semesta diciptakan. Tuhan menciptakan jagad raya tanpa bahan lain kecuali dirinya sendiri".

Setelah mengakhiri ceramahnya, seorang muridnya memperoleh ilham dari ceramah yang disampaikan tadi, suasana hatinya dipenuhi rasa cinta kasih yang amat dalam saat itu. Ketika berjalan melalui sebuah desa, menuju rumahnya, seekor anjing galak menghadang jalannya dan mulai menyalak, memamerkan semua giginya. Sang murid tersebut menghibur dirinya sendiri, "Guru saya baru saja mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan karena cinta kasih Tuhan. Karena Tuhan menciptakan dunia dengan keberadaannya sendiri, maka saya harus menyayangi dan menghormati semua makhluk ciptaannya." Sambil melewatinya, murid tersebut tersenyum ke arah si anjing disertai rasa kasih dan sayang dari dalam hatinya. Namun, begitu ia mendekat, anjing itu langsung menggigitnya.

Pada hari berikutnya, ketika mengunjungi rumah gurunya, ia menceritakan kejadian itu. Gurunya menanggapi dengan berkata, "Mungkin kau tahu, bahwa kau diciptakan berdasarkan citra Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan intisari dari alam semesta ini adalah cinta kasih. Namun tak seorangpun mengatakan hal ini kepada anjing."



(Ulasan Chin-Ning Chu)

Seperti halnya murid yang masih muda itu, kita berhasrat untuk berbuat baik dan melihat hanya yang terbaik dalam diri setiap orang, namun seringkali penilaian kita terhadap situasi saat itu pada tahap tertentu didasari oleh ketidaktahuan dan, karena itu, kita salah bereaksi. Murid muda itu seharusnya bisa menghindar dari si anjing atau mungkin menakut-nakutinya dan membuatnya lari terbirit-birit. Tak ada artinya sama sekali kalau sampai digigit anjing, karena anjing akan mengigit siapa saja yang melewatinya. Anjing jalanan layaknya tukang copet, yang tidak bisa membedakan kondisi batin orang-orang yang menjadi korbannya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, ketika seorang tukang copet berpapasan dengan seorang yang berhati emas sekalipun, yang dilihatnya bukan isi hati orang itu, melainkan isi dompetnya.



(AAF = Seringkali, kekeliruan kita dalam mempersepsi sesuatu, membuat kita keliru pula dalam bertindak. Semoga Allah SWT memberikan kepada kita pemahaman yang benar dan kekuatan untuk bertindak benar. Amin)



Catatan AAF =

Tulisan ini pernah saya posting ke Mailing List Isnet pada tanggal 20 Juli 1998 dengan Subject "Chin-Ning Chu-TFBH - Pemahaman menentukan cara bertindak"

Berikut sedikit suplemen dari tulisan tersebut :



From: Istiqfar

Date: 20 Juli 1998 20:00



Assalamu'alaikum,

Sekedar sharing pengalaman...

Kalau saja, si-murid itu benar-benar mentafakkuri, bahwa semua makhluk itu sebenarnya bertasbih kepada-Nya, niscaya, dia tidak akan digigit oleh anjing tersebut.

Aneh? Tapi saya pernah mengalaminya sendiri.

Wassalamu'alaikum,



From: Abu Al Fatih

Date: 21 Juli 1998 9:04



Assalamu 'alaikum wr.wb.

Untuk Istiqfar / Isa,

Terima kasih atas sharing pengalamannya. Tentunya itu memperkaya pemahaman kita tentang ilustrasi kisah "digigit anjing" itu.

Sekedar tambahan dari saya,

Mungkin yang dimaksud oleh Chin Ning Chu dengan ilustrasi anjing dan tukang copet itu adalah, bahwa seringkali kita "berharap" bahwa setiap orang berpikir dengan cara seperti bagaimana kita berpikir. Padahal pada kenyataannya yang terjadi "tidak selalu" demikian.

Mungkin semacam nasehat Umar bin Khoththob r.a. ketika mengingatkan bahwa untuk berhindar dari kekufuran / kemunkaran, maka kita harus "mengenal" kekufuran / kemunkaran itu.

Mungkin ada kekufuran / kemunkaran yang bisa dirubah dengan "sentuhan hati", tapi mungkin juga ada kekufuran / kemunkaran yang baru bisa dirubah dengan kepalan tangan (kekuatan) ....

Wallahu a'lam.

Abu Al Fatih

Kisah Hikmah Nashruddin Hoja

Kisah Hikmah Nashruddin Hoja

=======================================

Dari Homepage Islamic Network (ISNET)



YANG TERSULIT

Salah seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?"

"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.

"Apa itu?"

"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."

------------------------------------------------------------------------



NASIB DAN ASUMSI

"Apa artinya nasib, Mullah ?"

"Asumsi-asumsi."

"Bagaimana ?"

"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."

------------------------------------------------------------------------



CARA MEMBACA BUKU FILSUF

Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.

Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali. Sang penceramah mulai kesal.

"Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"

"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."

------------------------------------------------------------------------





YANG BENAR-BENAR BENAR

Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:

"Aku rasa engkau benar."

Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:

"Aku rasa engkau benar."

Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah !

Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:

"Aku rasa engkau benar."

------------------------------------------------------------------------



RELATIVITAS KEJU

Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,

"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.

"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."

Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.

"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.

"Tidak ada lagi," kata istrinya.

Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."

"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"

"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."

------------------------------------------------------------------------



SALAH ORIENTASI

Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.

"Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku," ujar Nasrudin ringan.

Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya.

Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.

"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!"

"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju."

------------------------------------------------------------------------



JANGAN TERLALU DALAM

Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.

Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga gampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.

Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"

Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"

"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nasrudin.

------------------------------------------------------------------------

===========================================

Dirancang oleh ISNET, 1998.

Hak cipta © dicadangkan.

Jalan Masih Panjang ...

Jalan masih panjang........

Hamzah (isayit@forfree.at)
Mon, 01 Jun 1998 16:05:25 +0700

Assalaamu'alaikum wr.wb.

Sebagian dari kita telah berpikir secara normatif, sehingga yang dilihat
adalah kesalahan-kesalahan pada mereka yang bertindak realistik atau
pragmatis. Sementara sebagian yang lain bertindak sangat pragmatis,
sehingga mereka menuduh yang normatif sebagai sangat naif dan pemimpi.
Kedua kelompok ini sering bertabrakan, akibatnya sering dipahami sebagai
keretakan umat ... kata akhirnya adalah "pluralisme" dan "ukhuwah
islamiah", namun demikian solusi ini tampaknya sulit dilakukan mungkin
karena pelakunya yang tidak mampu melaksanakan atau mungkin solusi ini
memang tidak tepat.,

Saya memilih yang terakhir, "bahwa kedua solusi itu tidak tepat".
Menurut saya solusinya adalah kita mesti berpikir dan bertidak secara
normatif sekaligus realistik, agar lebih jelasnya kita gunakan model
berpikir atau bertindak sbb:

[1] Formulasi konsep Ideal Islam
Studi qur'ani, hadist-hadist sahih dan praktek tiga generasi terbaik,
yakni generasi rasulullah, tabiin dan tabiut tabiin. Tujuan dari point
ini adalah memperbaiki buruknya pemahaman kita tentang islam.

[2] Analisis Strenght, Weakness, Opportunity, dan Threath.
Analisis ini mengkaji tentang kondisi riil kita, musuh dan lingkungan.

[3] Menformulasikan tujuan-tujuan praktis dalam rangka mencapai tujuan
ideal secara evolutif tetapi terarah.

Dengan cara berpikir yang demikian insya Allah kita akan lebih tenang di
dalam memahami dinamisasi perjuangan umat islam di Indonesia (dimanapun)
tanpa terjebak pada tindakan yang terlalu cepat menghakimi ataupun
terlalu yakin bahwa semua gerakan "on the right track". Kita akan
mengerti mana yang mesti kita dukung, kita biarkan, ataupun kita lawan
tentunya saja dengan cara-cara yang baik.

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Hamzah

---------
> Ibnu Utama
> Bismillaah....
>
> Assalaamu 'alaikum
>
> Yang selama ini saya amati ada dua kelompok besar ke-islaman yang
> memperjuangkan Islam. Pertama adalah kelompok yang memperjuangkan
> Islam lewat slogan-slogan yang bersifat simbolik, lugas, dan kerap
> kali mengisukan masalah-masalah yang bersifat normatif. Saya me-
> lihat kelompok ini terilhami oleh gerakan Ikhwanul Muslimin di Me-
> sir, ataupun gerakan syiah pada Revolusi Iran.
>
> Kelompok kedua adalah orang-orang yang memperjuangkan Islam melalui
> cara-cara baru yang lebih bersifat substantif, cerdas, dan sangat
> berbau unsur-unsur politis yang bersifat ambigu (dualisme). Pelaku-
> pelakunya kerap kali dapat di juluki badut-badut politik. Yang per-
> lu diingat cara-cara ini sangat efektif untuk melumpuhkan argumenta-
> si dari musuh-musuh Islam secara damai.
>
> Dalam pandangan saya tidak ada yang salah dari kedua cara di atas,
> Yang salah adalah ketika kita terlalu cepat untuk menghakimi mana
> yang benar dan mana yang salah.
>
> Dalam kerangka reformasi di Indonesia, saya melihat Pak Amin Rais
> paham betul mengenai dua mainstream di atas, karena di lihat dari
> latar belakang Pak Amin yang pernah melakukan research mengenai ke-
> dua gerakan di atas (Ikhwanul Muslimin dan Revolusi Iran), sekali-
> gus beliau terdidik dalam lingkungan yang sekular di US.
>
> Saya sangat yakin kedua kutub ini berpotensi untuk ber"sinergi"
> antara satu dengan yang lainnya, dalam kerangka dialog yang sehat,
> dan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Tapi yang perlu
> diingat kedua kutub ini berpotensi pula untuk memecah belah per-
> saudaraan umat Islam.
>
> Nah...saya berwasiat kepada diri kepada saya sendiri dan sahabat-sa-
> habat di Isnet ini agar kita selalu mencari titik temu-titik temu
> agar kedua kutub pemikiran di atas dapat bersinergi, berdiskusi
> dan bertausiah dengan semangat persaudaraan Islam, bukan dengan sa-
> ling menuding antara yang satu dengan yang lainnya.
>
> Hal inilah yang ingin saya ungkapkan kepada sahabat-sahabat di Is-
> net, agar kita tidak terlalu cepat menuduh Pak Habibie sebagai pre-
> siden yang tidak Islami, ataupun tokoh-tokoh yang lainnya. Ada baik-
> nya jika kita menjalin dialog yang sehat, dewasa, dan terbuka.
>
> Toh....saya yakin masa depan kita sebagai umat Islam masih panjang,
> masih banyak masalah-masalah lain yang harus kita tangani, seperti
> kelangkaan sumber daya manusia yang ahli dan trampil dalam teknolo-
> gi, budaya, politikus yang harus lebih hebat dari Pak Amin, ekonom-
> ekonom yang menguasai permasalahan moneter (sehingga perekonomian
> tidak tergantung lagi dari mata uang asing). Semua harus bekerja
> sama dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
>
> Untuk saudara Nasrallah dari Malaysia, saya sangat menghargai
> pendapat anda, tetapi permasalahannya adalah tidak semudah membalik
> telapak tangan kita. Dari beberapa informasi yang saya peroleh sam-
> pai saat ini beberapa daerah di Indonesia terancam kelaparan, belum
> lagi bermunculan partai-partai kecil yang hanya memikirkan kelompok
> (kumpulan) mereka sendiri tanpa mempertimbangkan nasib rakyat banyak.
>
> Permasalahan Indonesia sangatlah kompleks sekali, diperlukan pemikir-
> an yang jernih, bukan dendam kesumat, bukan pula menuding beberapa
> pemuka seperti Emil Salim, Gus Dur, ataupun Mega. Yang diperlukan a-
> dalah tataran konsepsional perekonomian dan politik, sehingga semua
> rakyat dapat bebas dari kemiskinan dan ketergantungan dari negara-
> negara besar.
>
> Ihdinashshirathal Mustaqiem.
>
> Ibnu Utama.